Kelar menonton film AVATAR, saya serasa ditampar. Dalam hati bergumam: “Kok, rasanya malu sekali ya menjadi manusia?” Apa pasal? Sepanjang sejarah, manusia-lah satu-satunya spesies makhluk hidup yang mengenal watak “rakus”. Manusia adalah makhluk yang rakus. Apa pun ia lakukan untuk mengambil lebih dari yang ia perlukan. Tak ayal, genaplah sabda Mahatma Gandhi, “There is enough in the world for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.”
Film AVATAR mengisyaratkan pesan yang gamblang: Ibu Bumi sedang sekarat di tangan anak-anaknya sendiri, manusia. Manusia mabuk akan dinamika di dalam polis mereka, akan politik dan ekonomi, akan teknologi dan sains. Ilmu pengetahuan memang melesat pesat, tetapi perkembangan itu sendiri tak pernah netral dari jerat kepentingan tertentu, tidak bebas nilai (bdk. Jürgen Habermas).
Ayu Utami mengambil perspektif lain. Dalam “Bilangan Fu”, ia menyerang para penganut agama Langit(agama-agama monoteistik) yang tiada henti berkoar “Kebenaran yang di Langit adalah milik kami”. Nyatanya, mereka tidak mampu menghormati alam sebagaimana dilakoni agama Bumi (agama-agama Timur politeistik dan agama-agama lokal). Tanpa peduli akan Kebenaran ada di teras rumah siapa, agama Bumi menanamkan pesan agar sungkan terhadap pohon, gunung, sungai, dsb.
Persis di sinilah refleksi saya tertuju pada Indonesia. Ketika kita sibuk menonton reality show “Ke Mana Enam Koma Tujuh Triliun Rupiah”, ketika kita kelimpungan lantaran barang impor Cina siap menyerbu Tanah Abang, dan ketika kita buru-buru ke mesin ATM untuk mengecek apakah uang tabungan hilang, Kompas hari ini (25/01/10) menurunkan berita tak menyenangkan. Seakan menyamai nafsu RDA Corporation akan unobtainium yang kaya di satelit Pandora, demikian pula sejumlah perusahaan tergiur akan kekayaan batu bara di dalam tanah Kalimantan.
Kalimantan kian bopeng dan berlubang-lubang akibat pertambangan. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menggerus hutan lindung yang sedianya digunakan sebagai pusat penelitian dan pendidikan. “Kami tak sanggup menghentikan kerakusan Ini,” pihak Universitas Mulawarman berujar.
Anda bisa lari tapi takkan bisa sembunyi. Anda bisa tidak peduli, tapi Anda takkan bisa terluput dari isu lingkungan ini. Bumi hanya satu, dan semakin lama kita mengulur waktu, semakin besar konsekuensi yang akan kita tanggung. Tanpa intervensi, saya yakin, Bumi akan tewas di tangan anak-anaknya sendiri.
Gazing through the window at the world outside
Wondering if mother earth will survive
Hoping that mankind will stop abusing her, sometimeAfter all theres just the two of us
And here we are still fighting for our lives
Watching all of history repeat itself, time after timeI’m just a dreamer, I dream my life away
I’m just a dreamer, who dreams of better daysI watch the sun go down like everyone of us
I’m hoping that the dawn will bring a sign
A better place for those who will come after us this timeI’m just a dreamer, I dream my life away, oh yeah
I’m just a dreamer, who dreams of better daysYour higher power may be God or Jesus Christ
It doesn’t really matter much to me
Without each others help there ain’t no hope for us
I’m living in a dream, a fantasy
Oh yeah, yeah, yeahIf only we could just find serenity
It would be nice if we could live as one
When will all this anger, hate and bigotry be gone?I’m just a dreamer, I dream my life away, today
I’m just a dreamer, who dreams of better days, ok
I’m just a dreamer, who’s searching for the way, today
I’m just a dreamer, dreaming my life away
Oh yeah, yeah, yeah
–”Dreamer”
Ozzy Osbourne




