Sewaktu ke kampus siang ini, saya tertarik pada satu pengumuman yang terpajang di papan: seminar membahas salah satu karya Platon, “Lysis”, yang diterjemahkan dan ditafsirkan oleh Dr. A. Setyo Wibowo, SJ, penerbit iPublishing. Wah, kebetulan buku tersebut sudah saya beli dan saya baca sampai habis. Nah, dengan seminar ini saya kira saya akan memperoleh manfaat lebih lanjut untuk memahami pemikiran Platon tentang makna persahabatan. Tapi, sayangnya, saya berhalangan hadir karena pada tanggal tersebut saya akan sudah pindah ke Pontianak. Jadi, saya sekadar memasang pengumuman tsb di sini—barangkali kawan-kawan tertarik?
(Baca selanjutnya…)
Seminar: Apakah Persahabatan menurut Platon?
Posted in Plato, STF Driyarkara, filsafat Yunani kuno, makna, sahabat on Agustus 15, 2009 by HirekaSekelumit Kritik Postmodernisme atas Modernitas
Posted in kebenaran, kritik, postmodernisme, strukturalisme on Agustus 14, 2009 by HirekaApakah yang dikritik Postmodernisme? Saya memahami setidaknya ada enam poin:
1. Grandnarrative (narasi besar) ditolak dan berpaling pada narasi kecil
Grandnarrative dicurigai memuat pemikiran-pemikiran ideologis yang hendak memonopoli kekuasaan atau mendominasi hal-hal atau kaum minoritas. Ide “keunggulan ras” dan “cinta tanah air”, misalnya, dipakai oleh Hitler untuk melegitimasi pembantaian atas ras Yahudi. Kaum postmodernis, dengan demikian, menolak grandnarrative.
Sebaliknya, narasi kecil adalah pengalaman sehari-hari dengan orang-orang, individu per individu (si Boni dengan si Eric), dalam suatu relasi yang personal dan konkret. Hal ini tentu berbeda sekali dengan, misalnya, ide “manusia” yang abstrak, tidak personal. Lyotard bahkan menegaskan bahwa tujuan diskursus bukanlah kesepakatan (konsensus), melainkan paralogue: ide-ide tidak harus dirangkum menjadi satu, melainkan membiarkan mereka tetap heterogen dengan pecahan-pecahan kecil yang berbeda-beda.
2. Menolak teleologi sejarah dan keyakinan akan progres (kemajuan)
Sejarah tidak lagi dipahami sebagai peristiwa yang linier, berlangsung bertahap, mulai dari masyarakat primitif yang percaya pada kekuatan gaib (teosentris), lalu ke tahap metafisis, hingga mencapai puncaknya pada tahap antroposentris (bdk. pandangan Karl Marx).
Antropolog postmodernis mengemukakan bahwa masyarakat yang dikatakan primitif pun mempunya sistem pemikiran yang tidak “sekuno” gambaran kaum modernis. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menganggap suku Asmat, misalnya, kurang beradab daripada suku Jawa dengan segala sistem etika, tingkatan bahasanya (halus-kasar), dll.
Paham kemajuan juga dipertanyakan sebab pada kenyataannya, fasisme yang merangkum sejarah filsafat Barat abad XX secara jelas menunjukkan “kemunduran kemanusiaan”, alih-alih kemajuan peradaban.
(Baca selanjutnya…)
Siapakah Manusia? menurut Abraham J. Heschel
Posted in Abraham Heschel, Budha, Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, agama dan filsafat, ateisme, filsafat manusia, hidup, makna, spiritualitas agama on Juli 29, 2009 by HirekaAbraham J. Heschel menulis buku Who is Man? (Stanford University Press, 1965). Buku ini tipis namun padat dengan uraian filosofis. Pada artikel ini saya sekadar meringkas Bab IV dalam buku tersebut yang membahas kebermaknaan manusia.
Bab IV | Chapter IV
Dimensi Makna | The Dimension of Meaning
Ada dua pertanyaan penting: [1] “Apakah ada/pengada/makhluk?” (what is being?) dan [2] “Apakah makna manusia?” (what is the meaning of human being?). Kita mempertanyakan makna sebab manusia bukanlah makhluk yang lengkap, final, selesai, paripurna (sheer being). Sebaliknya, ia selalu terlibat di dalam makna. Namun, manusia tidak mencari ‘kodrat/hakikat manusia’, melainkan ‘ada yang penuh-makna’ (significant being). Apakah makna keberadaanku? Untuk itu, ada dua hal yang saling bergantung tetapi tidak tumpang-tindih. Keberadaan manusia (the being of man) merujuk pada eksistensinya sendiri, apa adanya; sedangkan makna manusia (the meaning of man) merujuk pada lingkup makna, lebih luas daripada dirinya sendiri.
Alih-alih puas pada ungkapan “ya, aku ada” (I am), manusia akan bertanya, “Untuk apa aku ada di sini?” Tak dinyana, keberadaan manusia adalah suatu masalah bagi dirinya sendiri. Akibatnya, dalam rutinitas harian manusia cenderung merepresinya. Namun, akan ada saat ketika ia mau-tidak-mau menyadari bahwa, bagaikan mimpi buruk, ia dihadapkan pada pertanyaan yang selama ini ia coba hindari.
Lalu, apakah makna itu harus dicapai dengan usaha manusia atau ada pada dirinya sendiri? Apakah eksistensi manusia dapat diukur dalam makna atau keduanya tidak berhubungan (incongruous) sama sekali? Semua pertanyaan itu untuk mencari ‘ada yang penuh-makna’, yang transitif, sentrifugal, melampaui dirinya sendiri. Ya, secara paradoksal manusia membutuhkan suatu makna yang tidak dapat ditanganinya sendiri.
(Baca selanjutnya…)
Ayu Utami, Nol, dan Monoteisme
Posted in Ayu Utami, Budha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Yahudi on Juli 25, 2009 by Hireka
Ada fragmen menarik dalam novel “BILANGAN FU” karya Ayu Utami, hlm. 320-332. Pada halaman2 tsb, Ayu Utami mengutip buku “Misteri Bilangan” karya Ninkaou Niala Kram.
Inti dari kutipan di bawah ini adalah bahwa bilangan nol lebih dari sekadar angka. Ia sejatinya memiliki makna asalinya yang metaforis, spiritual, dan magis.
===========
[hlm. 321]
Dan perbedaan mendasar itu, rupa-rupanya, terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing. Agama-agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. Konsep ini ada dalam kata sunyi, sunyat, shunya. Konsep ini ada pada bilangan nol.
Sebaliknya, monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah SATU.
(Baca selanjutnya…)
Filsafat mendahului Agama?
Posted in Budha, Dewey Decimal Classification, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, agama dan filsafat, ateisme, common sense, pengantar filsafat, realitas, sains on Juli 25, 2009 by HirekaSekadar trivia saja.
Jika kamu pengunjung perpustakaan yang rajin,
kamu pasti tahu sistem Dewey Decimal Classification (DDC).
Jika belum tahu, lihat: Wikipedia atau Wikipedia Indonesia
Pernahkah kamu sadari bahwa,
Kode buku-buku Filsafat (yaitu 100)
mendahului kode buku-buku Agama (yaitu 200)?
Dewey membuat sistem klasifikasi buku-buku perpustakaan melalui analogi seorang manusia purba yang mulai keheranan dan bertanya2 akan dirinya dan lingkungan sekitarnya.
(Baca selanjutnya…)
Karl Marx: masih relevankah?
Posted in Karl Marx, Lenin, ateisme, komunisme on Juli 25, 2009 by HirekaHingga saat ini, negara kapitalis mana yg akhirnya berubah menjadi negara komunis?
Kalau demikian, teori sosialisme ilmiah a la Karl Marx dengan Lenin sebagai pengawal utamanya kehilangan relevansinya.
Benarkah? Saya kira demikian…
Mereka yang tidak beragama juga dijamin oleh NKRI?
Posted in Budha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, agama dan filsafat, ateisme, sains on Juli 25, 2009 by Hireka
Ada beberapa jenis kebebasan, salah satunya adalah kebebasan agama.
Apakah kebebasan agama? Menurut Sastrapratedja SJ, (“Filsafat Manusia”, 2007) kebebasan agama adalah kondisi yang menjamin hak orang untuk [1] menganut agama yang dipilihnya, ATAU [2] tidak menganut suatu agama pun.
Definisi di atas dilanjutkan sbb: Kebebasan beragama adalah HAK dan harus dibedakan dari KEWAJIBAN. Kebebasan beragama TIDAK berarti orang wajib beragama. Dengan kata lain, hak tidak dengan sendirinya membawa kewajiban.
Sejalan dengan definisi itu,
Saya berpendapat bahwa NKRI harus juga menjamin hak setiap warga negaranya untuk tidak beragama; sebab kebebasan agama pada hakikatnya juga merangkul hak orang untuk tidak beragama, bukan?
Anselmus: adanya Allah dapat dibuktikan tanpa Kitab Suci
Posted in Anselmus dari Canterbury, Budha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, ada, agama dan filsafat, ateisme, filsafat abad pertengahan, realitas, wahyu on Juli 25, 2009 by Hireka
Seringkali adanya Allah dianggap hanya dapat dipahami melalui IMAN dan WAHYU ilahi yang terdapat dalam KITAB SUCI. Tidak jarang pula umat beragama menafikan peran rasio (akal budi) manusia, seolah-olah akal budi tidak berdaya untuk membuktikan adanya Allah.
Namun, jika sebelumnya saya menghadirkan filsuf-filsuf atheis seperti Freud dan Feuerbach, kali ini saya menghadirkan satu filsuf terkemuka abad pertengahan: Anselmus dari Canterbury (1033-1109). Mulanya Ia seorang biarawan Benediktin yang lalu menjadi Uskup Agung di Canterbury, Inggris.
Ada 2 judul karya yang ia hasilkan untuk membuktikan adanya Allah: [1] Monologion dan [2] Proslogion. Namun, karya Proslogion lebih terkenal dan diperdebatkan, bahkan sampai saat ini, a.l. oleh Bonaventura, Thomas Aquinas, Dun Scotus, Descartes, Leibniz, Immanuel Kant, Hegel, hingga beberapa filsuf analisis bahasa abad XX.
Lantas, apa yang dikatakan Anselmus dlm Proslogion?
(Baca selanjutnya…)
Ateisme Freud (3/3): Agama akan lenyap. Itulah masa depan agama
Posted in Budha, Freud, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, agama dan filsafat, ateisme, psikoanalisis, sains on Juli 25, 2009 by HirekaMasih dalam karyanya “The Future of an Illusion” (1927),
Freud mengemukakan bagaimana nasib agama di masa depan.
Berikut saya kutip dengan penyesuaian:
* Bila RASIONALITAS dan keilmiahan berkembang, misalnya makin ditemukan obat-obatan penyakit dan penjelasan rasa tak berdaya eksistensial manusia, maka MAKIN SEMPITLAH WILAYAH AGAMA.
→ Ini menunjukkan bahwa agama berpijak pada EMOSI, bukan rasio.
* Agama membeku dalam kepercayaan emosional (FANATIK) dan tidak menerima kritik.
→ Ini menunjukkan bahwa sumber agama adalah keinginan emosi manusia belaka.
* Agama memberi pembenaran ilahi mengenai hukum-hukum moralnya dan menuntut “penyerahan diri” hati.
→ Ini menunjukkan nonrasionalnya agama.
Kesimpulannya, apa yg diinginkan manusia dari agama, nantinya (menurut Freud) akan diperolehnya dalam Rasio (Logos). Itulah masa depan agama, the future of an illusion!



