Malu Menjadi Manusia

Posted in agama, etika dengan kaitan (tags) , , on Januari 25, 2010 by Hireka

Kelar menonton film AVATAR, saya serasa ditampar. Dalam hati bergumam: “Kok, rasanya malu sekali ya menjadi manusia?” Apa pasal? Sepanjang sejarah, manusia-lah satu-satunya spesies makhluk hidup yang mengenal watak “rakus”. Manusia adalah makhluk yang rakus. Apa pun ia lakukan untuk mengambil lebih dari yang ia perlukan. Tak ayal, genaplah sabda Mahatma Gandhi, “There is enough in the world for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.”

Film AVATAR mengisyaratkan pesan yang gamblang: Ibu Bumi sedang sekarat di tangan anak-anaknya sendiri, manusia. Manusia mabuk akan dinamika di dalam polis mereka, akan politik dan ekonomi, akan teknologi dan sains. Ilmu pengetahuan memang melesat pesat, tetapi perkembangan itu sendiri tak pernah netral dari jerat kepentingan tertentu, tidak bebas nilai (bdk. Jürgen Habermas).

Ayu Utami mengambil perspektif lain. Dalam “Bilangan Fu”, ia menyerang para penganut agama Langit(agama-agama monoteistik) yang tiada henti berkoar “Kebenaran yang di Langit adalah milik kami”. Nyatanya, mereka tidak mampu menghormati alam sebagaimana dilakoni agama Bumi (agama-agama Timur politeistik dan agama-agama lokal). Tanpa peduli akan Kebenaran ada di teras rumah siapa, agama Bumi menanamkan pesan agar sungkan terhadap pohon, gunung, sungai, dsb.

Persis di sinilah refleksi saya tertuju pada Indonesia. Ketika kita sibuk menonton reality show “Ke Mana Enam Koma Tujuh Triliun Rupiah”, ketika kita kelimpungan lantaran barang impor Cina siap menyerbu Tanah Abang, dan ketika kita buru-buru ke mesin ATM untuk mengecek apakah uang tabungan hilang, Kompas hari ini (25/01/10) menurunkan berita tak menyenangkan. Seakan menyamai nafsu RDA Corporation akan unobtainium yang kaya di satelit Pandora, demikian pula sejumlah perusahaan tergiur akan kekayaan batu bara di dalam tanah Kalimantan.

Kalimantan kian bopeng dan berlubang-lubang akibat pertambangan. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menggerus hutan lindung yang sedianya digunakan sebagai pusat penelitian dan pendidikan. “Kami tak sanggup menghentikan kerakusan Ini,” pihak Universitas Mulawarman berujar.

Anda bisa lari tapi takkan bisa sembunyi. Anda bisa tidak peduli, tapi Anda takkan bisa terluput dari isu lingkungan ini. Bumi hanya satu, dan semakin lama kita mengulur waktu, semakin besar konsekuensi yang akan kita tanggung. Tanpa intervensi, saya yakin, Bumi akan tewas di tangan anak-anaknya sendiri.

Gazing through the window at the world outside
Wondering if mother earth will survive
Hoping that mankind will stop abusing her, sometime

After all theres just the two of us
And here we are still fighting for our lives
Watching all of history repeat itself, time after time

I’m just a dreamer, I dream my life away
I’m just a dreamer, who dreams of better days

I watch the sun go down like everyone of us
I’m hoping that the dawn will bring a sign
A better place for those who will come after us this time

I’m just a dreamer, I dream my life away, oh yeah
I’m just a dreamer, who dreams of better days

Your higher power may be God or Jesus Christ
It doesn’t really matter much to me
Without each others help there ain’t no hope for us
I’m living in a dream, a fantasy
Oh yeah, yeah, yeah

If only we could just find serenity
It would be nice if we could live as one
When will all this anger, hate and bigotry be gone?

I’m just a dreamer, I dream my life away, today
I’m just a dreamer, who dreams of better days, ok
I’m just a dreamer, who’s searching for the way, today
I’m just a dreamer, dreaming my life away
Oh yeah, yeah, yeah

–”Dreamer”
Ozzy Osbourne

Empirisme atau Empirisisme?

Posted in empirisme, filsafat Barat modern dengan kaitan (tags) , , on Januari 6, 2010 by Hireka

Kali ini saya benar-benar kelimpungan. Ada satu pertanyaan mendesak melesat di benak saya:

Istilah yang betul untuk menyebut paham bahwa pengetahuan manusia terutama diperoleh dari pengalaman (saja) itu Empirisme atau Empirisisme, sih?

Pasalnya, kata Empirisisme tersua beberapa kali,
bahkan terpampang besar-besar pada buku The Story of Philosophy karya Bryan Magee yang diterjemahkan ke bhs. Indo oleh Penerbit Kanisius.

Selama kuliah, yang saya kenal adalah term Empirisme. Term itu jamak ditemukan dalam diktat-diktat kuliah atau buku-buku karangan Dr. Simon Lili Tjahjadi, Prof. Franz Magnis-Suseno, Dr. Budi Hardiman, dll.
Adapun saya menduga term Empirisisme diterjemahkan begitu saja dari bahasa inggrisnya, Empiricism.

Semoga perbedaan kecil “-is” ini tidak diterima begitu saja, taken for granted, oleh semua kita. Bukankah itu salah satu spirit berfilsafat?

NB: dari pencarian dengan Google Indonesia (yg halaman websitenya berbahasa Indo)
5 Desember 2009 pkl 10:08 pm (GMT+7)
1. kata Empirisme dijumpai di 4.930 halaman situs
2. kata Empirisisme dijumpai di 1.050 halaman situs

Lalu, mana yang berterima?
(Baca selanjutnya…)

Metafora tidak pernah memadai?

Posted in fenomenologi, filsafat Barat modern dengan kaitan (tags) , , , , on Januari 6, 2010 by Hireka

Pikiran saya ini ternyata terus mencoba-coba mencari sesuatu untuk dipikirkan.

Dan sesuatu itu, kali ini, adalah METAFORA.

Bukan tanpa alasan saya tergiur untuk menelisik dalamdalam ihwal Metafora ini.

Ceritanya begini.

Saya “berdebat” dengan salah seorang sahabat karib saya tentang gaya seseorang dalam berteman. Kita pasti kenal ungkapan semisal “berteman bagaikan sumur” dan “berteman bagaikan laut” [ngga perlu saya terangkan lebih jauh apa makna konotatif "sumur" dan "laut", ‘kan?]

Awalnya, dia melemparkan ungkapan “Saya lebih suka berteman bagaikan laut daripada sumur”. Terangsang akan ungkapan itu, saya pun membalasnya sbb.

Transkrip percakapannya begini nih:

Saya:
Sedalam-dalamnya sumur, tetep aja lebih dalam laut. Jadi, laut punya fitur dobel: dalam dan luas. Kalo gitu, berteman bagaikan laut,,,yaaa,,,, berarti berteman sebanyak mungkin dan sedekat mungkin. Tapi, tunggu dulu, di laut ada juga sedikit palung yg dalamnya berkilo2meter; kedalaman inilah yg hanya dibagikan ke beberapa orang terdekat, entah kekasih entah sahabat.

Dia:
Keindahan laut ada pada kedalaman 0-200 m (tentunya sumur tidak sedalam itu) , bukan dasar laut…apalagi di palung laut yang gelap gulita…semakin dalam semakin gelap…kendatipun laut..saya lebih senang melihat keindahannya…

Saya:
Haha…. laut yg dangkal, sekilas begitu indah. Tapi ya,,,, jika kita berhenti menyelam sampai di lapisan laut yg masih terpapar cahaya mentari (di mana ikan warna-warni & terumbu karang hidup), maka itulah keindahan sensual yg tampak dalam keseharian saja.

(Baca selanjutnya…)

Sahabat? Just Go Ask Plato!

Posted in filsafat Yunani kuno dengan kaitan (tags) , , , on Desember 1, 2009 by Hireka

Hah! Sudah lama saya tidak mempost tulisan baru sejak pindah ke Pontianak. Maka, review buku di bawah ini kiranya bisa jadi penawar rindu tersendiri (halah….)

Sudah beberapa bulan yang lalu saya menyelesaikan membaca buku karangan A. Setyo Wibowo ini. Berikut saya muat review-nya. Selamat membaca.

Persahabatan à la Platon

Judul Buku : Mari Berbincang Bersama Plato: Persahabatan (Lysis)
Penerjemah dan Penafsir : A. Setyo Wibowo
Penerbit : iPublishing
Terbit : Maret 2009
Tebal buku : viii+137 halaman

Ada begitu banyak lagu, puisi, prosa, dan drama tentang cinta antardua kekasih, namun tampaknya tidak banyak pujangga yang menulis perihal esensi sahabat dan persahabatan. Padahal, kata orang, cinta seorang sahabat lebih penting daripada cinta seorang pacar. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya,” kalam Yesus. Demikianlah, kita mengenal mantan pacar, tetapi agaknya aneh bila kita menyebut seseorang “mantan sahabat”, bukan? Kalau begitu, benarkah bahwa persahabatan dengan sendirinya senantiasa kekal? Jika ya, bukankah ia lantas sama saja dengan geng dalam mana orang-orang bersahabat atas nama solidaritas melawan musuh? Atau, sesungguhnya adakah “pihak ketiga” di balik suatu persahabatan?

Syukurlah, Platon (Πλάτων) termasuk satu dari para “pujangga” yang sedikit itu. Di tengah banalnya syair-syair lagu cinta kacangan yang mendayu-melayu dalam industri musik dan film negeri ini serta piciknya motivasi geng remaja yang berjibaku atas nama solidaritas, kita akan menemukan suatu oase di mana gairah intelektual terpacu manakala kita larut membaca dialog Platon yang berjudul Lysis (Λύσις) ini. Sahabat dan persahabatan, itulah yang hendak diperikan Platon dengan “meminjam lidah” sang Guru, Sokrates (Σωκράτης). Dan, berbeda dari sang Murid, Aristoteles (Άριστοτέλης), yang menuliskan gagasannya dengan sistematis dan cenderung kering, Platon mengantar kita melalui jalan yang kelang-kelok, meloncat dari satu argumen ke argumen lain. Ia bahkan memerikan bagaimana Sokrates mementahkan kembali sebagian argumen yang telah dibangun dengan susah payah bersama sang mitra utama dialog, Lysis. Tidak ketinggalan, dilukiskan pula kepiawaian Sokrates bermain dialektika eristik dengan sahabat Lysis, Menexenos (Μενέξενος), semata-mata untuk menunjukkan bahwa metode “menolak sebuah argumen demi penolakan itu sendiri” itu tidak akan pernah meraih Kebenaran sejati.

***

(Baca selanjutnya…)

Seminar: Apakah Persahabatan menurut Platon?

Posted in filsafat Yunani kuno dengan kaitan (tags) , , , on Agustus 15, 2009 by Hireka

Sewaktu ke kampus siang ini, saya tertarik pada satu pengumuman yang terpajang di papan: seminar membahas salah satu karya Platon, “Lysis”, yang diterjemahkan dan ditafsirkan oleh Dr. A. Setyo Wibowo, SJ, penerbit iPublishing. Wah, kebetulan buku tersebut sudah saya beli dan saya baca sampai habis. Nah, dengan seminar ini saya kira saya akan memperoleh manfaat lebih lanjut untuk memahami pemikiran Platon tentang makna persahabatan. Tapi, sayangnya, saya berhalangan hadir karena pada tanggal tersebut saya akan sudah pindah ke Pontianak. Jadi, saya sekadar memasang pengumuman tsb di sini—barangkali kawan-kawan tertarik? :-)
(Baca selanjutnya…)

Heidegger, Kematian, dan Otentisitas Manusia

Posted in fenomenologi, filsafat Barat modern dengan kaitan (tags) , , , , , on Agustus 14, 2009 by Hireka

Berbincang soal kematian, kita tentu tidak akan melewatkan Martin Heidegger. Filsuf yang satu ini memiliki satu pokok pemikiran, yang menurut saya, sangat relevan dalam menghayati kematian sebagai milik setiap manusia individual. Alih-alih ikut dalam arus common sense “Ya, semua manusia toh akan mati”, Heidegger mengingatkan bahwa kematian bukanlah sekadar fenomena biasa yang berlaku sama saja dan biasa saja bagi semua orang. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa detik-detik menjelang kematian adalah saat-saat paling otentik yang dimiliki diriku sendiri (yang tidak mungkin “dititipkan” kepada orang lain).

Menurut Heidegger, kematian merupakan akhir dari kemungkinan-kemungkinan, suatu ketidakmungkinan dari kemungkinan. Maksudnya, ketika manusia telah mati, ia tidak akan mungkin lagi melakukan hal-hal untuk mewujudkan rencana hidupnya. Segala aktivitas badani (fisik) pun terhenti karena kematian. Dengan kata lain, manusia memiliki batas akhir dalam eksistensi kehidupannya di dunia. Bahkan, dapat dikatakan bahwa manusia adalah Ada-menuju-kematian. Ya, manusia menyadari bahwa ia akan mati sehingga ia juga menyadari keterbatasan dirinya.
(Baca selanjutnya…)

Sekelumit Kritik Postmodernisme atas Modernitas

Posted in postmodernisme, strukturalisme dengan kaitan (tags) , on Agustus 14, 2009 by Hireka

Apakah yang dikritik Postmodernisme? Saya memahami setidaknya ada enam poin:

1. Grandnarrative (narasi besar) ditolak dan berpaling pada narasi kecil
Grandnarrative dicurigai memuat pemikiran-pemikiran ideologis yang hendak memonopoli kekuasaan atau mendominasi hal-hal atau kaum minoritas. Ide “keunggulan ras” dan “cinta tanah air”, misalnya, dipakai oleh Hitler untuk melegitimasi pembantaian atas ras Yahudi. Kaum postmodernis, dengan demikian, menolak grandnarrative.
Sebaliknya, narasi kecil adalah pengalaman sehari-hari dengan orang-orang, individu per individu (si Boni dengan si Eric), dalam suatu relasi yang personal dan konkret. Hal ini tentu berbeda sekali dengan, misalnya, ide “manusia” yang abstrak, tidak personal. Lyotard bahkan menegaskan bahwa tujuan diskursus bukanlah kesepakatan (konsensus), melainkan paralogue: ide-ide tidak harus dirangkum menjadi satu, melainkan membiarkan mereka tetap heterogen dengan pecahan-pecahan kecil yang berbeda-beda.

2. Menolak teleologi sejarah dan keyakinan akan progres (kemajuan)
Sejarah tidak lagi dipahami sebagai peristiwa yang linier, berlangsung bertahap, mulai dari masyarakat primitif yang percaya pada kekuatan gaib (teosentris), lalu ke tahap metafisis, hingga mencapai puncaknya pada tahap antroposentris (bdk. pandangan Karl Marx).
Antropolog postmodernis mengemukakan bahwa masyarakat yang dikatakan primitif pun mempunya sistem pemikiran yang tidak “sekuno” gambaran kaum modernis. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menganggap suku Asmat, misalnya, kurang beradab daripada suku Jawa dengan segala sistem etika, tingkatan bahasanya (halus-kasar), dll.
Paham kemajuan juga dipertanyakan sebab pada kenyataannya, fasisme yang merangkum sejarah filsafat Barat abad XX secara jelas menunjukkan “kemunduran kemanusiaan”, alih-alih kemajuan peradaban.
(Baca selanjutnya…)

Michel Foucault, Tubuh Konstruktif, dan Kedisiplinan

Posted in filsafat Barat modern, filsafat manusia, konstruksionisme dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 13, 2009 by Hireka

Dalam pandangannya mengenai tubuh, Michel Foucault mengikuti teori atau paham konstruksionisme yang bertentangan dengan teori naturalis tubuh. Menurutnya, tubuh merupakan hasil konstruksi dari masyarakat. Maksudnya, tubuh menerima makna dari masyarakat—jadi, tubuh adalah reseptor makna, bukan generator/pelahir makna. Hal itu berarti bahwa sepanjang sejarah, masyarakatlah yang menentukan bagaimana tubuh seharusnya diperlakukan, dimaknai, dihargai, dst. Melalui diskursus yang sarat akan proyek kekuasaan, tubuh telah dimanfaatkan, diubah, ditransformasikan, didisiplinkan, dan dikontrol oleh masyarakat agar menjadi tubuh yang taat (docile body).

Tentang ketaatan dan kedisplinan tubuh, Foucault menjelaskan lebih lanjut melalui genealogi, yaitu metode menelusuri asal-mula dan perkembangan dari sesuatu yang sekarang ada.
(Baca selanjutnya…)

Filsafat Mendahului Sastra? Sebuah dialog antarkawan kuliah filsafat

Posted in agama, ateisme, filsafat Barat modern, filsafat Yunani kuno, filsafat abad pertengahan, filsafat manusia, pengantar filsafat dengan kaitan (tags) , , , , on Agustus 5, 2009 by Hireka

Ada suatu “pertukaran pikiran” yang menarik antara saya dan kawan kuliah saya pada Facebook note yang saya buat beberapa hari lalu. Mulanya, saya membuat note sama persis seperti artikel saya di blog ini sebelumnya yang berjudul Filsafat Mendahului Agama?.

Inti artikel itu adalah saya hendak menyuguhkan bahwa Dewey dengan pertimbangan tertentu (yang belum saya tahu seutuhnya) mengklasifikasikan buku-buku filsafat dengan nomor kode yang lebih kecil atau lebih awal daripada buku-buku agama dan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu alam, teknologi, sastra, bahasa, dll. Nah, Kawan saya itu, alih-alih berkomentar tentang apakah filsafat sungguh mendahului agama (karena kode buku filsafat adalah 100, sedangkan kode buku agama adalah 200), malah menyorot ihwal hubungan antara filsafat dan sastra.

Berikut saya kutip (dengan sedikit perubahan) “dialog” singkat di antara kami :-)

BERTO:
eh bung.. sedikit iseng. kalo ini dianggap mendahului dalam pengertian periodisasi sejarah, gw agak terenyuh dengan filsafat mendahului sastra… bukankah ada mitos (salah satu genre sastra tradisional) tentang asal muasal segala sesuatu dulu di yunani sebelum para filsuf alam mempertanyakan tentang dari mana asal manusia dan alam semesta?

HIREKA:
Kalau yang saya tangkap begini, Bert.

Bayangkan saja kamu adalah generasi pertama homo sapiens yang perkembangan otaknya sudah memungkinkan kamu berpikir reflektif–suatu kemampuan yang tidak dimiliki hewan. Pertanyaan yang mungkin muncul benar2 pertama kali adalah, tentu saja, siapa saya?
(Baca selanjutnya…)

Siapakah Manusia? menurut Abraham J. Heschel

Posted in agama, ateisme, filsafat manusia dengan kaitan (tags) , , , , , on Juli 29, 2009 by Hireka

Abraham J. Heschel menulis buku Who is Man? (Stanford University Press, 1965). Buku ini tipis namun padat dengan uraian filosofis. Pada artikel ini saya sekadar meringkas Bab IV dalam buku tersebut yang membahas kebermaknaan manusia.

Bab IV | Chapter IV

Dimensi Makna | The Dimension of Meaning

Ada dua pertanyaan penting: [1] “Apakah ada/pengada/makhluk?” (what is being?) dan [2] “Apakah makna manusia?” (what is the meaning of human being?). Kita mempertanyakan makna sebab manusia bukanlah makhluk yang lengkap, final, selesai, paripurna (sheer being). Sebaliknya, ia selalu terlibat di dalam makna. Namun, manusia tidak mencari ‘kodrat/hakikat manusia’, melainkan ‘ada yang penuh-makna’ (significant being). Apakah makna keberadaanku? Untuk itu, ada dua hal yang saling bergantung tetapi tidak tumpang-tindih. Keberadaan manusia (the being of man) merujuk pada eksistensinya sendiri, apa adanya; sedangkan makna manusia (the meaning of man) merujuk pada lingkup makna, lebih luas daripada dirinya sendiri.

Alih-alih puas pada ungkapan “ya, aku ada” (I am), manusia akan bertanya, “Untuk apa aku ada di sini?” Tak dinyana, keberadaan manusia adalah suatu masalah bagi dirinya sendiri. Akibatnya, dalam rutinitas harian manusia cenderung merepresinya. Namun, akan ada saat ketika ia mau-tidak-mau menyadari bahwa, bagaikan mimpi buruk, ia dihadapkan pada pertanyaan yang selama ini ia coba hindari.

Lalu, apakah makna itu harus dicapai dengan usaha manusia atau ada pada dirinya sendiri? Apakah eksistensi manusia dapat diukur dalam makna atau keduanya tidak berhubungan (incongruous) sama sekali? Semua pertanyaan itu untuk mencari ‘ada yang penuh-makna’, yang transitif, sentrifugal, melampaui dirinya sendiri. Ya, secara paradoksal manusia membutuhkan suatu makna yang tidak dapat ditanganinya sendiri.
(Baca selanjutnya…)

Extension Course Filsafat STF Driyarkara 2009: Kuasa dan Keterbatasan Nalar Manusia

Posted in agama, ateisme, filsafat Barat modern, pengantar filsafat dengan kaitan (tags) , , on Juli 26, 2009 by Hireka

stfdriyarkaraMulai bulan Agustus hingga Desember 2009, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara kembali membuka Extension Course Filsafat semester Gasal 2009/2010 dengan tema:

“Kuasa dan Keterbatasan Nalar Manusia:
Belajar dari Sejarah Filsafat Barat Modern.”

Berikut saya kutip pengantar dalam brosur yang saya terima:

Terra corpus est, at mentis ignis est,” (Badan itu tanah, sedangkan roh itu api) demikian Epicharmos, pujangga Yunani-Romawi, menggambarkan hakikat manusia.
Tetapi, di manakah hubungan antara badan dan roh?
Antara nalar dan basic instincts?
Betulkah “pengetahuan adalah kekuasaan”, atau kehendak butalah yang mengikhtiarkan kekuasaan?
Apa dan bagaimana kemampuan nalar manusia?
Lalu mana batas-batasnya?

Miliki keberanian menjelajah pemikiran para filsuf zaman modern, melampaui batas-batas netral!
Selamat datang di dunia filsafat!

Kursus ini terbuka untuk umum.
(Baca selanjutnya…)

Ayu Utami, Nol, dan Monoteisme

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , on Juli 25, 2009 by Hireka

Bilangan FuAda fragmen menarik dalam novel “BILANGAN FU” karya Ayu Utami, hlm. 320-332. Pada halaman2 tsb, Ayu Utami mengutip buku “Misteri Bilangan” karya Ninkaou Niala Kram.

Inti dari kutipan di bawah ini adalah bahwa bilangan nol lebih dari sekadar angka. Ia sejatinya memiliki makna asalinya yang metaforis, spiritual, dan magis.

===========
[hlm. 321]
Dan perbedaan mendasar itu, rupa-rupanya, terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing. Agama-agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. Konsep ini ada dalam kata sunyi, sunyat, shunya. Konsep ini ada pada bilangan nol.

Sebaliknya, monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah SATU.
(Baca selanjutnya…)

Jean-Paul Sartre: Kepribadiannya dari Perspektif Karen Horney

Posted in ateisme, fenomenologi, filsafat Barat modern, komunisme, psikoanalisis dengan kaitan (tags) , , , , , on Juli 25, 2009 by Hireka

[catatan: Artikel berikut aslinya berupa paper yang dikerjakan dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Psikologi Kepribadian. Pengguna yang ingin memanfaatkan isi artikel ini diharapkan tidak lupa mencantumkan alamat blog ini sebagai sumber.]

KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE
MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY

“L’enfer c’est les autres.”
“Neraka, itulah orang lain.”
—Sandiwara Huis Clos (1944)

Sartre

I. MASA BAHAGIA BERSAMA SANG IBU DAN KAKEK

Jean-Paul Charles Eymard Sartre dilahirkan dalam sebuah keluarga borjuis, 21 Juni 1905. Ayahnya, Jean Baptiste-Sartre, adalah seorang perwira muda angkatan laut yang, sayangnya, telah meninggal dunia sebelum ‘Poulou’, nama kecil J.P. Sartre, berusia satu tahun. Sejak saat itu, Poulou hidup bersama ibunya, Anne-Marie, yang kini menjanda pada usia 24 tahun. Anne-Marie dan putranya itu lalu pindah ke rumah orangtuanya (kakek Poulou) di Paris untuk tinggal bersama ayahnya, Charles Shweitzer, yang tidak lain adalah paman dari seorang teolog, ekseget, dan misionaris protestan terkenal, Albert Schweitzer.

Secara umum dapat dikatakan bahwa masa kecil Sartre pada tahun-tahun pertama hidupnya adalah sangat bahagia. Sartre sangat mengagumi perpustakaan kakeknya. Berbagai kisah kepahlawanan dan petualangan para ksatria dibacanya. Singkatnya, dunianya adalah perpustakaan kakeknya. Di samping itu, Sartre dan ibunya sama-sama diperlakukan sebagai anak di rumah sang kakek. Akibatnya, hubungan Sartre dengan ibunya lebih menyerupai hubungan adik dengan kakak. Figur ibu-kakak ini tak ayal lagi menjadi kebutuhan psikologis yang penting bagi Sarte kecil.

Menjadi pusat perhatian dan dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya, Sartre kecil tumbuh dengan ego yang cepat membesar. Sampai-sampai, ia mendeklarasikan dirinya sendiri, “Aku adalah seorang jenius” (dan, memang, sesungguhnya ia seorang jenius). Kakeknya bahkan sempat merengkuh bocah itu ke dalam pangkuannya dan menyebut Sarte, “Harta karun kecilku!” Berambut pirang panjang dan bergelung-gelung, Sartre pun menyadari pula betapa tampan dirinya. Pendek kata, ia seakan hidup di surga.
(Baca selanjutnya…)

Filsafat mendahului Agama?

Posted in agama, ateisme, pengantar filsafat dengan kaitan (tags) , , , , , on Juli 25, 2009 by Hireka

Sekadar trivia saja.
Jika kamu pengunjung perpustakaan yang rajin,
kamu pasti tahu sistem Dewey Decimal Classification (DDC).

Jika belum tahu, lihat: Wikipedia atau Wikipedia Indonesia

Pernahkah kamu sadari bahwa,

Kode buku-buku Filsafat (yaitu 100)
mendahului kode buku-buku Agama (yaitu 200)?

Dewey membuat sistem klasifikasi buku-buku perpustakaan melalui analogi seorang manusia purba yang mulai keheranan dan bertanya2 akan dirinya dan lingkungan sekitarnya.
(Baca selanjutnya…)

Heidegger: agama bukanlah hal pertama

Posted in agama, ateisme, fenomenologi, filsafat Barat modern dengan kaitan (tags) , , , , , on Juli 25, 2009 by Hireka

Heidegger dan Mistik Keseharian oleh F. Budi HardimanDalam buku Heidegger dan Mistik Keseharian, (KPG, 2003) karya Budi Hardiman, (buku ini merupakan suatu pengantar karya masterpiece Martin Heidegger, Sein und Zeit) saya menemukan satu kutipan menarik:

[hlm. 48-49]
“Heidegger menyebut ini sebagai ‘keterlemparan’ (Geworfenheit). Dasein terlempar ke dalam dunia ini. Orang saleh akan protes dengan pendapat ini, karena agama jelas memberitahu bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tetapi menurut Heidegger kesadaran religius ini harus ditangguhkan dulu, yaitu dimasukkan ke dalam ‘tanda kurung’. Bukankah semua ini hasil sosialisasi sejak kecil? Bagaimana jika sosialisasi ini tidak ada? Kita sungguh-sungguh tak ditanyai lebih dahulu apakah mau dilahirkan ke dunia ini. Kita ada ‘begitu saja’, terlempar.”

[hlm. 67]
“Dari mana aku, ke mana aku, dan mengapa aku ada? Pertanyaan ini menggelisahkan setiap manusia. Di mana mencari jawaban? Agama memberikan keyakinan berikut: Tuhan telah menciptakan kita; Dialah asal dan tujuan hidup manusia. Jawaban ini kedengaran nyaman karena seolah-olah pasti. Tetapi andaikan sejak kecil kita tidak disosialisasikan dengan ajaran agama, apa yang tersisa dalam kesadaran bebas agama itu?

Sebagai catatan:
heidegger* Heidegger merupakan salah satu filsuf besar zaman modern yang mengusung metode fenomenologis dalam pencariannya akan makna ada (Sein). Dan dia bukan atheis, sekalipun ajaran filsafatnya hampir selalu berseberangan dengan dogma agama (Katolik).
* Kata “Dasein” di sini merujuk pada manusia, walau arti harfiahnya = “ada-di-sana”