Michel Foucault, Tubuh Konstruktif, dan Kedisiplinan


Dalam pandangannya mengenai tubuh, Michel Foucault mengikuti teori atau paham konstruksionisme yang bertentangan dengan teori naturalis tubuh. Menurutnya, tubuh merupakan hasil konstruksi dari masyarakat. Maksudnya, tubuh menerima makna dari masyarakat—jadi, tubuh adalah reseptor makna, bukan generator/pelahir makna. Hal itu berarti bahwa sepanjang sejarah, masyarakatlah yang menentukan bagaimana tubuh seharusnya diperlakukan, dimaknai, dihargai, dst. Melalui diskursus yang sarat akan proyek kekuasaan, tubuh telah dimanfaatkan, diubah, ditransformasikan, didisiplinkan, dan dikontrol oleh masyarakat agar menjadi tubuh yang taat (docile body).

Tentang ketaatan dan kedisplinan tubuh, Foucault menjelaskan lebih lanjut melalui genealogi, yaitu metode menelusuri asal-mula dan perkembangan dari sesuatu yang sekarang ada.

Kasus pertama adalah sejarah atau asal-mula kegilaan. Foucault menyatakan bahwa orang tertentu dianggap gila pertama-tama bukan karena ia tidak mampu berpikir sehat dan menggunakan tubuhnya dengan baik, melainkan karena masyarakat yang menentukan bagaimana kriteria orang yang sehat. Kegilaan dianggap suatu penyimpangan, maka disisihkan dari masyarakat.

Kasus kedua adalah tentang lembaga pemasyarakatan atau penjara. Foucault menemukan bahwa penjara mempergunakan sistem panoptikon, di mana para penjaga dapat mengawasi setiap gerak-gerik atau tingkah laku narapidana. Nah, karena merasa terus-menerus diawasi, narapidana lalu membangun kesadaran untuk menyensor dirinya sendiri (self-censored), sehingga lama-kelamaan mereka mendisiplinkan diri sendiri, terlepas dari apakah mereka tahu bahwa mereka benar-benar sedang diawasi atau tidak.

Dengan demikian, pendisiplinan tubuh tidak selalu berkonotasi negatif, melainkan punya dampak positif bagi stabilitas dan kontinuitas masyarakat.

Adapun kritik besar atas konstruksionisme adalah teori ini mereduksi makna tubuh seolah-olah tubuh hanya berurusan dengan struktur masyarakat, padahal tubuh “biologis” juga memiliki peran tersendiri dan tidak bisa diabaikan.

Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • bogorbiru  On 22/02/2010 at 22:11

    mantab gan. numpang mbaca-baca yah. ditunggu kunjungan baliknya :)

  • Hireka  On 07/04/2010 at 21:46

    Iya… terimakasih untuk komentarnya!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.