Arsip Kategori: modern philosophy

A tribute to Lisa Lukman

Ce matin, j’ai assisté au lancement du livre « Proses Pembentukan Manusia : Antropologi Filosofis Jacques Lacan » à l’école de philosophie de Driyarkara. L’auteur du livre s’appelle Lisa Lukman. Elle est décédée le 14 avril 2008 à cause de lupus. Ce livre est donc un hommage à elle. This morning, I attended the launching [...]

French, German, British philosophies

It seems that French philosophy appeals more to me than that of Germany. Yet, the philosophy of language is dominated by the British. *garuk-garuk*

Empirisme atau Empirisisme?

Kali ini saya benar-benar kelimpungan. Ada satu pertanyaan mendesak melesat di benak saya: Istilah yang betul untuk menyebut paham bahwa pengetahuan manusia terutama diperoleh dari pengalaman (saja) itu Empirisme atau Empirisisme, sih? Pasalnya, kata Empirisisme tersua beberapa kali, bahkan terpampang besar-besar pada buku The Story of Philosophy karya Bryan Magee yang diterjemahkan ke bhs. Indo [...]

Metafora tidak pernah memadai?

Pikiran saya ini ternyata terus mencoba-coba mencari sesuatu untuk dipikirkan. Dan sesuatu itu, kali ini, adalah METAFORA. Bukan tanpa alasan saya tergiur untuk menelisik dalamdalam ihwal Metafora ini. Ceritanya begini. Saya “berdebat” dengan salah seorang sahabat karib saya tentang gaya seseorang dalam berteman. Kita pasti kenal ungkapan semisal “berteman bagaikan sumur” dan “berteman bagaikan laut” [...]

Heidegger, Kematian, dan Otentisitas Manusia

Berbincang soal kematian, kita tentu tidak akan melewatkan Martin Heidegger. Filsuf yang satu ini memiliki satu pokok pemikiran, yang menurut saya, sangat relevan dalam menghayati kematian sebagai milik setiap manusia individual. Alih-alih ikut dalam arus common sense “Ya, semua manusia toh akan mati”, Heidegger mengingatkan bahwa kematian bukanlah sekadar fenomena biasa yang berlaku sama saja [...]

Michel Foucault, Tubuh Konstruktif, dan Kedisiplinan

Apakah tubuh menurut Foucault? Tubuh bagi Foucault merupakan hasil konstruksi masyarakat. Sepanjang sejarah tubuh didisplinkan oleh masyarakat.

Filsafat Mendahului Sastra? Sebuah dialog antarkawan kuliah filsafat

Apa benar Filsafat tidak hanya mendahului Agama tetapi juga mendahului sastra? Satu kawan saya menyanggah tesis di atas.

Extension Course Filsafat STF Driyarkara 2009: Kuasa dan Keterbatasan Nalar Manusia

Agustus s.d. Desember 2009, Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara membuka Extension Course Filsafat dengan tema “Kuasa dan Keterbatasan Nalar Manusia: Belajar dari Sejarah Filsafat Barat Modern.” Kursus ini terbuka untuk umum.

Jean-Paul Sartre: Kepribadiannya dari Perspektif Karen Horney

[catatan: Artikel berikut aslinya berupa paper yang dikerjakan dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Psikologi Kepribadian. Pengguna yang ingin memanfaatkan isi artikel ini diharapkan tidak lupa mencantumkan alamat blog ini sebagai sumber. Daftar pustaka sengaja tidak ditampilkan.] KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY “L’enfer c’est les autres.” “Neraka, itulah orang lain.” —Sandiwara Huis [...]

Heidegger: agama bukanlah hal pertama

Untuk memahami eksistensi manusia, Heidegger menganjurkan agar kita menunda ihwal agama dahulu. Bukankah agama sejatinya ialah hasil sosialisasi sejak kecil? Bagaimana jika sosialisasi ini tidak ada?

Mengapa Berfilsafat?

Filsafat, mengapa tidak? Jawaban terbaik atas masalah seseorang tentang hidup hanya bisa ditemukan melalui pemikirannya sendiri—dengan kata lain, berfilsafat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.