Arsip Kategori: religion

Malu Menjadi Manusia

Kelar menonton film AVATAR, saya serasa ditampar. Dalam hati bergumam: “Kok, rasanya malu sekali ya menjadi manusia?” Apa pasal? Sepanjang sejarah, manusia-lah satu-satunya spesies makhluk hidup yang mengenal watak “rakus”. Manusia adalah makhluk yang rakus. Apa pun ia lakukan untuk mengambil lebih dari yang ia perlukan. Tak ayal, genaplah sabda Mahatma Gandhi, “There is enough [...]

Filsafat Mendahului Sastra? Sebuah dialog antarkawan kuliah filsafat

Apa benar Filsafat tidak hanya mendahului Agama tetapi juga mendahului sastra? Satu kawan saya menyanggah tesis di atas.

Siapakah Manusia? menurut Abraham J. Heschel

cinta akan makna final berarti bersedia mentransendensi diri sendiri. Pengalaman akan makna sungguh melibatkan semangat hidup yang melampaui akal budi, dan juga membukakan diri pada seluruh umat manusia. Pada akhirnya, manusia pun mengamini (to say ‘Amen’) segala makhluk, pengada, dan Sang Pencipta ‘ada’. Itulah panggilan hidup final manusia.

Extension Course Filsafat STF Driyarkara 2009: Kuasa dan Keterbatasan Nalar Manusia

Agustus s.d. Desember 2009, Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara membuka Extension Course Filsafat dengan tema “Kuasa dan Keterbatasan Nalar Manusia: Belajar dari Sejarah Filsafat Barat Modern.” Kursus ini terbuka untuk umum.

Ayu Utami, Nol, dan Monoteisme

Ayu Utami menulis dalam novelnya Bilangan Fu, bilangan nol lebih dari sekadar angka. Nol sejatinya memiliki makna asalinya yang metaforis, spiritual, dan magis.

Filsafat mendahului Agama?

Dewey Decimal Classification (DDC): Pernahkah kamu sadari bahwa kode buku-buku Filsafat (yaitu 100) mendahului kode buku-buku Agama (yaitu 200)?

Heidegger: agama bukanlah hal pertama

Untuk memahami eksistensi manusia, Heidegger menganjurkan agar kita menunda ihwal agama dahulu. Bukankah agama sejatinya ialah hasil sosialisasi sejak kecil? Bagaimana jika sosialisasi ini tidak ada?

Mereka yang tidak beragama juga dijamin oleh NKRI?

Saya berpendapat bahwa NKRI harus juga menjamin hak setiap warga negaranya untuk tidak beragama; sebab kebebasan agama pada hakikatnya juga merangkul hak orang untuk tidak beragama, bukan?

Anselmus: adanya Allah dapat dibuktikan tanpa Kitab Suci

Membuktikan eksistensi Allah tanpa kitab suci, memangnya bisa? Nah, Anselmus dari Canterbury memberikan satu solusi: Allah bisa dibuktikan ada-Nya melalui silogisme rasional!

Ateisme Freud (3/3): Agama akan lenyap. Itulah masa depan agama

Freud meramalkan nasib agama di masa depan. Menurutnya, agama akan lenyap seiring dengan meningkatnya rasionalitas manusia. bagaimana mungkin?

Ateisme Freud (2/3): Agama bersumber dari perasaan tidak berdaya manusia

Menurut Freud, agama bersumber dari perasaan tidak berdaya manusia. Agama tidak lebih dari sekadar perwujudan ketakutan infantil (kekanak-kanakan) manusia. Bagaimana mungkin?

Ateisme Freud (1/3): Agama adalah neurosis (penyakit mental) kolektif

Menurut Freud, agama adalah neurosis kolektif. Agama adalah sekadar penyakit mental yang dilakukan bersama-sama! Bagaimana mungkin?

Ateisme Feuerbach: Tuhan adalah proyeksi akal budi manusia belaka

Menurut Feuerbach, Tuhan adalah proyeksi akal budi manusia belaka. Untuk itu manusia harus meniadakan agama! Bagaimana mungkin?

Berfilsafat dan Berkomik Sekaligus….

Berfilsafat tidak mesti ribet. Dengan komik “Filsuf Jagoan!” terbitan KPG, berfilsafat menjadi lebih ringan dan menghibur!

“Lysis”, Sahabat di Mata Sokrates

Apa sih arti sahabat? Pertanyaan itu juga diajukan Sokrates. Dalam bukunya “Lysis”, Sokrates mengajak kita berpikir tentang arti persahabatan.

Diskusi bulanan JIL: Zionisme, Anti-Zionisme, dan Pasca-Zionisme

Berikut adalah jadwal diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal. Untuk bulan Juli 2009, topiknya adalah “Zionisme, Anti-Zionisme, dan Pasca-Zionisme.” Narasumber: Ahmad Sahal & Hamid Basyaib Moderator: Ihsan Ali Fauzi Waktu: Kamis, 30 Juli 2009, Jam 19.00-21.30 WIB, Tempat: Teater Utan Kayu Jl. Utan Kayu 68 H Jakarta Timur Sumber: Diskusi JIL Bulan Juli Zionisme barangkali merupakan [...]

Majalah “Islam belatung” = Melakukan yang baik untuk menghindari hukuman

Materi dalam majalah “Islam belatung” hanya mengumbar amanat berbuat baik demi meraih surga dan menghindari neraka. Benarkah?

Semakin banyak umat beragama yang “know how”, tetapi tidak “know why”?

Inilah perbedaan antara umat beragama yang sekadar “know how” (tahu bagaimana), dengan mereka yang juga “know why” (tahu mengapa).

“Buat apa kita masih berusaha berfilsafat ketika Allah sudah memberitahu secara pasti lewat Kitab Suci?”

Buat apa berfilsafat ketika Allah sudah memberitahu secara pasti lewat Kitab Suci? Ternyata, ada 4 hal mengapa Agama TIDAK membuat Filsafat TIDAK PERLU dipelajari.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.